Ya Allah wajar bila kadang kami putus asa, sebab hidup ini memang berat dan ia bertambah berat, sebab kami tambah beratkan kehidupan kami karena kesalahan dan sikap kami.
Ya Allah wajar bila kadang kamu putus asa, sebab beban kami memang berat, tidak imbang dengan kemampuan dan kuasa kami.
Hanya kami kawatir ya Allah, bahwa keputusasan kami itu akan berlama-lama hingga semakin menjauhkan kami dari dirimu. Berilah motivasi buat kami, belailah kami dengan kasih sayangmu, dan kenalkanlah kemahakuasaan dan kebesaranmu kepada kami, sehingga kami bisa memanfatkan kemahaanmu dalam setiap situasi dan kondisi kami.
Aku lelah, lelah menapaki jalanan yang penuh kerikil ini. Lelah berharap untuk sampai ke tujuan. Lelah menanti suatu kepastian. Lelah yang berganti menjadi keputusasaan. Akankah kulanjutkan perjalananku? Ataukah berhenti sampai di sini? Keringat terus membanjiri sekujur tubuhku. Air mataku tak henti-hentinya mengalir. Seakan diri ini hanya menumpang jasad saja. Semangatku hilang, entah kemana. Kemarin, aku masih bisa bertahan. Karena yakin jalan yang kulalui adalah benar. Tapi kini setelah melihat teliti, sadarlah aku. Aku telah melakukan kekhilafan yang sangat besar. Aku merasakan sakitnya. Kadang jiwaku goncang, kadang menggigil sendirian.
Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Ada legenda bahwa segala sesuatu yang jatuh kesungai ini, dedauan, serangga, bulu burung, akan berubah menjadi batu yang membentuk dasar sungai. Kalau saja aku dapat mengeluarkan hatiku dan melemparkannya ke arus, maka kepedihan dan rinduku akan berakhir, dan akhirnya akupun melupakan semuanya.
Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Udara musim dingin membuat air mata yang mengalir di pipiku terasa dingin, dan air mataku menetes ke air sungai dingin yang menggelegak melewatiku. Disuatu tempat entah dimana, sungai ini akan bertemu sungai lain, lalu yang lain lagi, hingga jauh dari hati dan pandanganku semuanya menyatu dengan lautan.
Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar kekasihku tak pernah tahu bahwa suatu hari aku pernah menangis untuknya. Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar aku dapat melupakan sungai Piedra, biara, gereja di Pegunungan Pyrenee, kabut, dan jalan-jalan yang kami lalui bersama.
Aku akan melupakan jala-jalan, pegunungan, dan padang-padang, mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi yang takkan pernah menjadi kenyataan.
Aku ingat “saat magis-ku” saat ketika sebuah “ya” atau “tidak” dapat mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Rasanya sudah lama sekali. Sulit dipercaya baru minggu lalu aku menemukan cintaku lagi, dan kemudian kehilangan dirinya.
Aku menulis kisah ini di tepi Sungai Piedra. Tanganku terasa beku, kakiku mati rasa, dan setiap menit aku ingin berhenti.
“Hiduplah. Mengenang hanya untuk orang-orang tua,” ia berkata.
Mungkin cinta membuat kita menua sebelum waktunya atau menjadi muda, jika masa muda telah lewat. Namun mana mungkin aku tidak mengenang saat-saat itu? Itulah sebabnya aku menulis, mencoba mengubah getir menjadi rindu, sepi menjadi kenangan. Sehingga ketika aku selesai menceritakan kisah ini pada diriku sendiri, aku bisa melemparkannya ke Piedra. Itulah yang dikatakan wanita yang memberiku tempat menginap. Ketika itulah seperti kata salah satu orang kudus, air sungai akan memadamkan apa yang telah ditulis oleh lidah api.
Semua kisah cinta tiada berbeda
Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Udara musim dingin membuat air mata yang mengalir di pipiku terasa dingin, dan air mataku menetes ke air sungai dingin yang menggelegak melewatiku. Disuatu tempat entah dimana, sungai ini akan bertemu sungai lain, lalu yang lain lagi, hingga jauh dari hati dan pandanganku semuanya menyatu dengan lautan.
Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar kekasihku tak pernah tahu bahwa suatu hari aku pernah menangis untuknya. Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar aku dapat melupakan sungai Piedra, biara, gereja di Pegunungan Pyrenee, kabut, dan jalan-jalan yang kami lalui bersama.
Aku akan melupakan jala-jalan, pegunungan, dan padang-padang, mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi yang takkan pernah menjadi kenyataan.
Aku ingat “saat magis-ku” saat ketika sebuah “ya” atau “tidak” dapat mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Rasanya sudah lama sekali. Sulit dipercaya baru minggu lalu aku menemukan cintaku lagi, dan kemudian kehilangan dirinya.
Aku menulis kisah ini di tepi Sungai Piedra. Tanganku terasa beku, kakiku mati rasa, dan setiap menit aku ingin berhenti.
“Hiduplah. Mengenang hanya untuk orang-orang tua,” ia berkata.
Mungkin cinta membuat kita menua sebelum waktunya atau menjadi muda, jika masa muda telah lewat. Namun mana mungkin aku tidak mengenang saat-saat itu? Itulah sebabnya aku menulis, mencoba mengubah getir menjadi rindu, sepi menjadi kenangan. Sehingga ketika aku selesai menceritakan kisah ini pada diriku sendiri, aku bisa melemparkannya ke Piedra. Itulah yang dikatakan wanita yang memberiku tempat menginap. Ketika itulah seperti kata salah satu orang kudus, air sungai akan memadamkan apa yang telah ditulis oleh lidah api.
Semua kisah cinta tiada berbeda
duh kangennya ma blogku, maaf yah baru sempat nulis lagi. soalnya tiap hari sibuk mulu, urus kerjaan di kantor, trus sibuk kursus bahasa Jepang. Iya nih, lagi semangat2nya belajar bahasa Jepang persiapan buat ke Jepang, biasalah buat ngebantuin Ultraman ngalahin monster naga api. 

asik juga belajar bahasa Jepang, gak susah2 amat, kata sensei ku intinya konsentrasi, mendengar dan melihat juga harus mengerti budaya orang Jepang. Sampai kemarin pelajarannya baru sekitar pengenalan huruf hiragana dan katakana, dan tiap pertemuan pasti ada tugas, dan tugasnya menulis huruf hiragana A-N masing2 3 kali, biar cepat hafal katanya.
tu huruf2 jepang hiragana dan katakana, yang mesti ditulis berulang2 biar cepet pinter.
Langgan:
Entri (Atom)

